Fren, Rapatin Donk!
15 Agustus 2009 18 Komentar
Melihat fenomena yang terjadi di masyarakat kita sekarang, tentang ‘sajadah’ yang dijadikan sebagai pembatas sholat antara satu dengan yang lain, ada yang make sajadahnya lebaaaaaaaaarrrr+lebaaaayyyy
, tapi ada juga yang memakai sajadah lebih kecil, ada pula yang g’ m’makai sajadah tapi MERAPATKAN shaf nya.
*Ana curhat bentar yaaa, Hehehe
Ana punya 2 perbandingan masjid yang sering ana datangin buat sholat, baik sholat wajib yang lima ataupun sholat-sholat sunnah yang lainnnya. Nah, disini ana melihat perbedaan fren, di masjid yang satu ini kalo sholat berjamaah shaf nya sangat sangat sangat rengaaaannggggg >.<, ini adalah contoh yang kurang baik!, ana sering mencoba merapatkan barisan, tapi sebagian besar orang belum mengerti tentang sebuah kesempurnaan sholat dengan MERAPATKAN dan MELURUSKAN shof nya ketika berjama’ah. Padahal bahaya banget nih ngomong kek gini, ana bukan kiai atau ustadz, tapi fren kita musti melihat realita yang ada di masyarakat kita INDONESIA pada umumnya dan kampung lo pada khususnya. Hehehe. Masjid yang kedua lebih baik, karena ana melihat shaf nya sangatlah rapat! dan jujur az, ana lebih senang sholat disana
.
Mungkin terkesan shaf sholat itu biasa ya?, <–”Yang penting kan khusyu’ nya, kedai???”
Hahahahaha, jangan salah choy!!, khusyu’ itu kalo shaf udah rapat! Supaya syetan dkk. g’ bisa mengisi shaf yang renggang, kalo masih renggang, setan pasti mengganggu kita, gimana bisa khusyu’????????
Sebagai bukti, check it(story) out?!
Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.
Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. “Hai, Blis!”, panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”, jawab Iblis ketus.
“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!”, Kiai mencoba mengusir.
“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru”. Kiai tercenung. “Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”. “Dengan apa?”
“Dengan sajadah!”
“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?”
“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!”
“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?”
“Bukan itu saja Kiai…”
“Lalu?”
“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar”
“Untuk apa?”
“Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah”.
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.
Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai dialog lagi.
“Yang mana?”
“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka”.
Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.
Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.
Pemilik sajadah lebar, diidentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.
Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
“Astaghfirullahal adziiiim “, ujar sang Kiai pelan.
Nah, sekarang udah bisa mebayangkan belum, berapa banyak setan yang berkeliaran melewati shaf yang renggang!
Jadi mulai sekarang, mulailah mengajak sesama muslim untuk MERAPATKAN dan MELURUSKAN barisan ketika sholat!, jangan lah berpecah belah fren, dari cara sholat itu, sebenarnya kita sudah bisa menilai orang dari cara sholatnya, baik kesabarannya, ketenangannya, kesombongannya, keserakahannya, kita udah bisa menilai fren!
*Gw udah kayak ustadz az nih, Hehehe
Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat bagi kita semua
, bacalah dengan seksama dan dalam tempo yang selama-lamanya, resapin makna dari cerita yang sederhana nie fren, pengalaman ini dibagi dalam rangka MENCERDASKAN umat islam


*Maaf jika isi bog nya agak berat
semoga pembaca bisa menerima nya.


Comment